ilmu pengetahuan mengenai ekonomi

bukan sekedar pengetahuan

Archive for Oktober, 2010

Pengertian Struktur Pasar

Posted by Pratama Rus Ramdhani pada Oktober 31, 2010

Saya akan mencoba membicarakan pasar persaingan sempurna, semoga dapat dipahami dengan baik. Struktur Pasar memiliki pengertian penggolongan produsen kepada beberapa bentuk pasar berdasarkan pada ciri-ciri seperti jenis produk yang dihasilkan, banyaknya perusahaan dalam industri, mudah tidaknya keluar atau masuk ke dalam industri dan peranan iklan dalam kegiatan industri. Pada analisa ekonomi dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna (yang meliputi monopoli, oligopoli, monopolistik dan monopsoni).

A. Pasar Persaingan Sempurna

Pengertian pasar persaingan sempurna adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dengan penawaran di mana jumlah pembeli dan penjual sedemikian rupa banyaknya/ tidak terbatas.
Ciri-ciri pokok dari pasar persaingan sempurna adalah:
a. Jumlah perusahaan dalam pasar sangat banyak.
b. Produk/barang yang diperdagangkan serba sama (homogen).
c. Konsumen memahami sepenuhnya keadaan pasar.
d. Tidak ada hambatan untuk keluar/masuk bagi setiap penjual.
e. Pemerintah tidak campur tangan dalam proses pembentukan harga.
f. Penjual atau produsen hanya berperan sebagai price taker (pengambil harga).

Jenis pasar persaingan sempurna terjadi ketika jumlah produsen sangat banyak sekali dengan memproduksi produk yang sejenis dan mirip dengan jumlah konsumen yang banyak. Contoh produknya adalah seperti beras, gandum, batubara, kentang, dan lain-lain. Sifat-sifat pasar persaingan sempurna :
– Jumlah penjual dan pembeli banyak
– Barang yang dijual sejenis, serupa dan mirip satu sama lain
– Penjual bersifat pengambil harga (price taker)
– Harga ditentukan mekanisme pasar permintaan dan penawaran (demand and supply)
– Posisi tawar konsumen kuat
– Sulit memperoleh keuntungan di atas rata-rata
– Sensitif terhadap perubahan harga
– Mudah untuk masuk dan keluar dari pasar

B. Pasar Persaingan tidak Sempurna

Apakah masih ada yang perlu kita pahami lebih mendalam dari bahasan di atas? Jika tidak, saya akan mencoba lanjutkan pembahasan yang berhubungan dengan pasar persaingan tidak sempurna, di mana pada pasar persaingan tidak sempurna akan kita bagi pembahasannya ke dalam bahasan pasar monopoli, pasar oligopoli, pasar duopoli, pasar monopolistik dan monopsoni.
1. Pasar Monopoli
Arti dari pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran di mana hanya ada satu penjual/produsen yang berhadapan dengan banyak pembeli atau konsumen.
Ciri-ciri dari pasar monopoli adalah:
1) hanya ada satu produsen yang menguasai penawaran;
2) tidak ada barang substitusi/pengganti yang mirip (close substitute);
3) produsen memiliki kekuatan menentukan harga; dan
4) tidak ada pengusaha lain yang bisa memasuki pasar tersebut karena ada hambatan berupa keunggulan perusahaan.

Anda tentu bertanya mengapa terjadi pasar monopoli. Ada beberapa penyebab terjadinya pasar monopoli, di antara penyebabnya adalah sebagai berikut:
1) Ditetapkannya Undang-undang (Monopoli Undang-undang). Atas pertimbangan pemerintah, maka pemerintah dapat memberikan hak pada suatu perusahaan seperti PT. Pos dan Giro, PT. PLN.
2) Hasil pembinaan mutu dan spesifikasi yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain, sehingga lama kelamaan timbul kepercayaan masyarakat untuk selalu menggunakan produk tersebut.
3) Hasil cipta atau karya seseorang yang diberikan kepada suatu perusahaan untuk diproduksi, yang kita kenal dengan istilah hak paten atau hak cipta.
4) Sumber daya alam. Perbedaan sumber daya alam menyebabkan suatu produk hanya dikuasai oleh satu daerah tertentu seperti timah dari pulau Bangka.
5) Modal yang besar, berarti mendukung suatu perusahaan untuk lebih mengembangkan dan penguasaan terhadap suatu bidang usaha.

“Coba kita perhatikan apakah di daerah Anda terdapat perusahaan yang memiliki keadaan seperti yang disebutkan di atas?”
Penjual monopoli belum tentu mendapatkan keuntungan yang besar, karena mungkin saja struktur biaya produksinya berada di atas harga pasar yang terbentuk. Seperti kita ketahui pada pasar ini, penjual monopoli memiliki kemampuan untuk menentukan/ merubah harga. Namun demikian tetap saja memiliki keterbatasan dalam penetapan harga, karena kalau terlalu mahal maka orang akan mencari alternatif barang lain.
Apakah Anda sudah memahami penjelasan perolehan laba maksimum di pasar monopoli? Jika belum coba Anda diskusikan dengan Guru Bina dan jika telah memahami, Anda bisa melanjutkan pada bahasan berikutnya.
Pasar monopoli akan terjadi jika di dalam pasar konsumen hanya terdiri dari satu produsen atau penjual. Contohnya seperti microsoft windows, perusahaan listrik negara (pln), perusahaan kereta api (perumka), dan lain sebagainya. Sifat-sifat pasar monopoli :
• Hanya terdapat satu penjual atau produsen
• Harga dan jumlah kuantitas produk yang ditawarkan dikuasai oleh perusahaan monopoli
• Umumnya monopoli dijalankan oleh pemerintah untuk kepentingan hajat hidup orang banyak
• Sangat sulit untuk masuk ke pasar karena peraturan undang-undang maupun butuh sumber daya yang sulit didapat
• Hanya ada satu jenis produk tanpa adanya alternatif pilihan
• Tidak butuh strategi dan promosi untuk sukses
Tambahan :
• Monopsoni adalah kebalikan dari monopoli, yaitu di mana hanya terdapat satu pembeli saja yang membeli produk yang dihasilkan.
• Monopoli adalah sesuatu yang dilarang di Republik Indonesia yang diperkuat dengan undang-undang anti monopoli.

2. Pasar Oligopoli
Arti dari pasar oligopoli adalah suatu bentuk interaksi permintaan dan penawaran, di mana terdapat beberapa penjual/produsen yang menguasai seluruh permintaan pasar.
Ciri-ciri dari pasar oligopoli adalah:
1) Terdapat beberapa penjual/produsen yang menguasai pasar.
2) Barang yang diperjual-belikan dapat homogen dan dapat pula berbeda corak (differentiated product), seperti air minuman aqua.
3) Terdapat hambatan masuk yang cukup kuat bagi perusahaan di luar pasar untuk
masuk ke dalam pasar.
4) Satu di antaranya para oligopolis merupakan price leader yaitu penjual yang memiliki/pangsa pasar yang terbesar. Penjual ini memiliki kekuatan yang besar untuk menetapkan harga dan para penjual lainnya harus mengikuti harga tersebut. Contoh dari produk oligopoli: semen, air mineral.
Pasar oligopoli adalah suatu bentuk persaingan pasar yang didominasi oleh beberapa produsen atau penjual dalam satu wilayah area. Contoh industri yang termasuk oligopoli adalah industri semen di Indonesia, industri mobil di Amerika Serikat, dan sebagainya. Sifat-sifat pasar oligopoli :
– Harga produk yang dijual relatif sama
– Pembedaan produk yang unggul merupakan kunci sukses
– Sulit masuk ke pasar karena butuh sumber daya yang besar
– Perubahan harga akan diikuti perusahaan lain
3. Pasar Monopolistik
Arti dari pasar monopolistik adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dengan penawaran di mana terdapat sejumlah besar penjual yang menawarkan barang yang sama. Pasar monopolistik merupakan pasar yang memiliki sifat monopoli pada spesifikasi barangnya. Sedangkan unsur persaingan pada banyak penjual yang menjual produk yang sejenis.
Contoh: produk sabun yang memiliki keunggulan misalnya untuk kecantikan, kesehatan dan lain-lain.
Ciri-ciri dari pasar monopolistik adalah:
1) Terdapat banyak penjual/produsen yang berkecimpung di pasar.
2) Barang yang diperjual-belikan merupakan differentiated product.
3) Para penjual memiliki kekuatan monopoli atas barang produknya sendiri.
4) Untuk memenangkan persaingan setiap penjual aktif melakukan promosi/iklan.
5) Keluar masuk pasar barang/produk relatif lebih mudah.
Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut berbeda beda antara produsen yang satu dengan yang lain. Contoh produknya adalah seperti makanan ringan (snack), nasi goreng, pulpen, buku, dan sebagainya. Sifat-sifat pasar monopolistic :
• Untuk unggul diperlukan keunggulan bersaing yang berbeda
• Mirip dengan pasar persaingan sempurna
• Brand yang menjadi ciri khas produk berbeda-beda
• Produsen atau penjual hanya memiliki sedikit kekuatan merubah harga
• Relatif mudah keluar masuk pasar

http://organisasi.org/bentuk_bentuk_struktur_pasar_konsumen_persaingan_sempurna_monopolistik_oligopoli_dan_monopoli
http://www.snapdrive.net/files/566570/struktur%20pasar.pdf
http://organisasi.org/macam-jenis-bank-definisi-pengertian-bank-sentral-umum-dan-bank-perkreditan-rakyat
http://organisasi.org/definisi-pengertian-kebijakan-moneter-dan-kebijakan-fiskal-instrumen-serta-penjelasannya

Posted in ilmu Ekonomi | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Rangkuman Matakuliah Kewirausahaan ..

Posted by Pratama Rus Ramdhani pada Oktober 27, 2010


Mata kuliah Pendidikan Kewirausahaan (PKOP4206) berbobot 3 sks dengan 6 pokok kajian yang tertuang dalam 6 Modul. Pada mata kuliah ini membahas dan mengkaji berbagai permasalahan kewirausahaan yang terjadi di era reformasi dan globalisasi.Selanjutnya, dibahas pula bagaimana menjadi wiraswastawan yang tangguh berwirausaha.

Setelah mempelajari Modul ini diharapkan Anda dapat:

  1. menjelaskan konsep-konsep dasar kewirausahaan;
  2. menjelaskan tentang kebutuhan berprestasi dan berkreativitas bagi seorang wirausaha;
  3. mengidentifikasi peluang bisnis dalam kewirausahaan;
  4. menjelaskan manajemen bisnis dalam kewirausahaan;
  5. menunjukkan kebersamaan dan etika bisnis;
  6. mengidentifikasi pengembangan kewirausahaan.

Mata kuliah ini disusun dalam 6 Modul sebagai berikut.

  1. Modul 1: Konsep-konsep Dasar Kewirausahaan/Entrepreneurship
  2. Modul 2: Pendidikan, Kebutuhan Berprestasi, dan Kreativitas bagi Wirausahawan
  3. Modul 3: Identifikasi Peluang Bisnis dalam Wirausaha
  4. Modul 4: Manajemen Bisnis dalam Kewirausahaan
  5. Modul 5: Kebersamaan dan Etika Bisnis
  6. Modul 6: Pengembangan Kewirausahaan

Untuk mempelajari mata kuliah ini, Anda dapat mempelajarinya secara mandiri atau berdiskusi secara berkelompok. Selain itu, Anda dapat mengerjakan latihan-latihan dan tes formatif yang terdapat di setiap akhir kegiatan belajar.

Selanjutnya agar Anda berhasil dengan baik dalam mempelajari mata kuliah ini, ikutilah petunjuk belajar berikut ini.

  1. Bacalah dengan cermat Tinjauan Mata Kuliah ini sampai Anda memahami betul apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari mata kuliah ini!
  2. Bacalah sepintas setiap Modul dan temukan kata-kata yang Anda anggap baru. Tandailah dengan memakai stabilo dan carilah pada kamus yang Anda miliki!
  3. Tangkaplah pengertian demi pengertian dari isi mata kuliah ini, melalui pemahaman sendiri, bertukar pikiran dengan mahasiswa atau guru lain, serta dengan tutor Anda.
  4. Mantapkan pemahaman Anda melalui diskusi melalui pengalaman sehari-hari yang berhubungan dengan masalah-masalah pendidikan kewirausahaan dalam kelompok kecil atau secara klasikal pada saat tutorial.

Selanjutnya silakan Anda mempelajari mata kuliah ini, mulailah dari Modul 1 berurutan sampai dengan Modul 6 dengan baik.


MODUL 1: Konsep-konsep Dasar Kewirausahaan/Entrepreneurship Kegiatan Belajar 1: Konsep-konsep Dasar Kewirausahaan
Rangkuman

Konsep entrepreneurship mulai diperkenalkan pada abad ke-18 di Prancis oleh Richard Cantillon. Pada periode yang sama di Inggris juga sedang terjadi revolusi industri yang melibatkan sejumlah entrepreneur. Kemudian, gagasan tersebut dibahas secara lebih mendalam oleh Joseph Schumpeter, seorang ahli ekonomi Jerman, pada tahun 1911. Melalui teori pertumbuhan ekonomi dari Schumpeter konsep entrepreneurship telah didudukkan pada posisi yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan.Pengertian entrepreneurship itu sendiri berkembang sejalan dengan evolusi pemikiran para ahli ekonomi di dunia barat, kemudian menyebar ke negara-negara lain termasuk ke Indonesia. Di negara kita sendiri konsep entrepreneurship tersebut dialihbahasakan sebagai kewiraswastaan atau kewirausahaan.

Dari sejumlah definisi yang dikemukakan oleh para ahli baik dalam maupun luar negeri diketahui bahwa terdapat banyak keragaman definisi yang terjadi. Hal ini sangat mungkin karena konsep kewirausahaan itu sendiri merupakan konsep ilmu sosial yang bersifat dinamis dan akan selalu mengalami perubahan seiring dengan kemajuan yang dicapai oleh perkembangan ilmu itu sendiri. Sejumlah definisi yang telah disumbangkan oleh para ahli tersebut merupakan landasan bagi pengembangan studi lebih lanjut.

Kegiatan Belajar 2: Sifat dan Ciri-ciri Kewirausahaan
Rangkuman

Dari beberapa literatur asing dan dalam negeri diperoleh gambaran bahwa begitu banyak rumusan tentang ciri-ciri atau karakteristik dari para wirausaha yang telah memperkaya wacana kewirausahaan itu sendiri. Sejak konsep entrepreneurship diperkenalkan sampai dengan sekarang terdapat kecenderungan adanya berbagai penambahan dalam ciri-ciri tersebut. Hal ini bisa dipahami mengingat semakin modern tingkat kehidupan suatu masyarakat maka akan semakin kompleks dan bervariasi pula hal-hal yang bisa dilakukan oleh seorang wirausaha. Dan setiap perubahan pola kehidupan suatu masyarakat selalu meminta tuntutan kemampuan yang berbeda sehingga sifat, sikap, dan ciri yang dituntut dari seorang wirausaha pada setiap tahap perubahan tersebut akan berbeda-beda pula. Apa yang disajikan dari hasil penelitian Hornaday yang kelihatan begitu mendalam tentang ciri-ciri kewirausahaan tersebut tidak tertutup kemungkinan untuk diperbarui dan diberikan penambahan-penambahan baru, tetapi paling tidak hasil penelitian beliau dapat dijadikan landasan yang sangat berharga untuk mengembangkan studi lebih lanjut.

Kegiatan Belajar 3: Peran dan Fungsi Kewirausahaan
Rangkuman

Pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai oleh negara maju dan upaya peningkatan kesejahteraan yang sedang dilaksanakan oleh negara sedang berkembang, dalam keadaan bagaimanapun konteksnya, banyak bergantung pada mutu sumber daya manusia yang memiliki semangat kewirausahaan, yaitu manusia-manusia yang mampu berpikir logis, sistematis, kritis, kreatif dan inovatif, berwawasan jauh ke depan, dan berani menghadapi tantangan serta tidak takut terhadap berbagai risiko yang akan terjadi. Hal inilah yang menegaskan peran dan fungsi kehadiran para wirausahawan dalam pembangunan.

Terdapat enam peran dan fungsi kewirausahaan dalam pembangunan, yaitu sebagai inovator, perencana, pengambil keputusan, penanggung risiko, dan penghubung.

Daftar Pustaka

  • Afiff, Faisal (1994). Menuju Pemasaran Global. Bandung: Eresco.
  • Archer, Howard (1990). “The Role of the Entrepreneur in the Emergence and Development of UK Multinational Enterprises”: Journal of European Economic History (on line) Available: URL
  • Business Town (2000) “Entrepreneurial: profile of an Entrepreneur. Small business Web Guide (on line). Available: URL
  • Carland, Jame W. et al. (1984). Differentiating Entrepreneurs from small Business Owners: A Conceptualization. Academic of Management Review. April 1984.
  • Clayton, Oliver. (1981). Planning a Career as a Business Owner. Business Education Forum 36.
  • Cole, Arthur (1959. Business Enterprise in its Social Setting. Cambridge: Harvard University Press.
  • Danuhadimejo, Jatmiko (1981). Suatu Tinjauan terhadap Peranan Pendidikan dan Pengembangan Kewirausahaan dalam menunjang Pembangunan di Indonesia. Bandung: IKIP Bandung.
  • Hornaday, A. John (1982). Research About Living Entrepreneur. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
  • Howard, Archer (1990). “The Role of the Entrepreneur in the Emergence and Development of UK Multinational Enterprises”: Journal of European Economic History (on line) Available: URL
  • Kartajaya, Hermawan, dkk. (1996) 36 Kasus Pemasaran Asli Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputendo.
  • Kent, Calvin A.et al. (1982). Encyclopedia of Entrepreneurship. Englewood Cliffs: Prentice Hall, Inc.
  • Kirzner, Israel M. (1979). Perception, Opportunity, and Profit: Studies in the Theory of Entrepreneurship. Chicago: University of Chicago Press.
  • Koontz, Harold dan O’Donell, Cyrill (1972). Principle of Management, Analysis of Managerial Functions. Kokusha, Tokyo: McGraw Hill Ltd.
  • Kuratko, Donald F. dan Hodgetts, Richard M. (1989). Entrepreneurships: A Contemporary approach. Chicago: The Dryden Press.
  • Matherly, Timothy A. dan Goldsmith, Ronald E. (1985) :The Two Faces of Creativity.” Business Horizons. September – Oktober.
  • Meredith, Geoffrey G. et. al. (1996) Kewirausahaan: Teori dan PraktIk. Seri Manajemen No. 17. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
  • Napitupulu, WP. (1976)” Pendidikan Kewiraswastaan di Indonesia.” Kertas Kerja pada Lokakarya Sistem Pendidikan dan Pengembangan Kewiraswataan di Indonesia. Jakarta, 21 – 23 Juli 1976
  • Porter, Michael E. (1988) Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance. New York: The Free Press.
  • Pusat latihan Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil (1995). Kewirausahaan Indonesia dengan Semangat 17 – 8 – 45. Jakarta: Kloang Klede Jaya.
  • Sagir, Soeharsono (1975). Entrepreneurship Transmigrasi. Bandung: BPFE, Universitas Pajajaran Bandung.
  • Schumpeter, Joseph (1951) “Change and the Entrepreneur” in Essays of J.A. Schumpeter. Ed. Richard V. Clemence (Reading). Mass: Addison Wesly.
  • Shapero, Albert (1975) Entrepreneurship and Economic Development. Milwaukee: Project ISEED, Ltd.
  • Soemanto, Wasty (1984). Alternatif Pendidikan Wiraswasta Menuju Tinggal Landas Pembangunan. Surabaya: Usaha Nasional.
  • Soemarwoto, Otto (1991) Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.
  • Sumahamidjaya, Suparman (1976) Prakata Ketua Panitia. Prakata pada Lokakarya Sistem Pendidikan dan Pengembangan Kewiraswastaan di Indonesia. Jakarta, 21 – 23 Juli 1976
  • Sumarno. (1984). Kontribusi Sikap Mental Wiraswasta untuk Berprestasi. Jakarta: Era Swasta
  • Usman, W. (1995) Pengaruh Globalisasi Terhadap Ekonomi (Kertas Kerja). Jakarta.

MODUL 2: Pendidikan, Kebutuhan Berprestasi, dan Kreativitas Bagi Wirausahawan Kegiatan Belajar 1: Pendidikan, Kebutuhan Berprestasi, dan Kreativitas
Rangkuman

  1. Kebutuhan berprestasi dan kreativitas merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan keduanya perlu dimiliki oleh seorang wirausaha. Jika seorang wirausaha telah meyakini bahwa dirinya mampu mengorganisasikan berbagai kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya untuk berprestasi maka logikanya ia akan semakin yakin bahwa dirinya akan bisa mengembangkan kreativitasnya.
  2. Kebutuhan berprestasi merupakan dorongan (keadaan) dari dalam yang memacu seseorang bekerja keras untuk mencapai prestasi tertentu. Sedangkan kreativitas adalah kemampuan untuk melahirkan sesuatu yang baru atau sesuatu yang relatif baru baik berupa gagasan atau karya nyata.
  3. Wirausaha yang kreatif dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu pemikir aktivis dan pemikir kreatif. Sedangkan faktor yang menyebabkan kreativitas pada seorang wirausaha adalah kepekaan masalah, aliran gagasan keaslian dan fleksibilitas.
  4. Pengembangan motivasi berprestasi dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yaitu kemauan berprestasi dan kemampuan berprestasi.
    Sedangkan pengembangan kreativitas dapat dilakukan dengan cara pemilihan waktu yang tepat, mempelajari bagaimana bersantai secara mental, bersikap waspada dan menciptakan kebiasaan kerja produktif.

Kegiatan Belajar 2: Jalan menuju Wirausaha Sukses
Rangkuman

  1. Banyak faktor yang mempengaruhi seorang wirausaha dalam mencapai jenjang kesuksesan. Faktor-faktor tersebut, antara lain kemampuan seorang wirausaha dalam menggunakan sumber daya, kejelian dalam melihat peluang pasar, kemampuan dalam memasuki produk, kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya luar, dan kemampuan dalam menjalin kemitraan.
  2. Kemampuan seorang wirausaha dalam mengelola sumber daya, seperti tenaga kerja, finansial, dan teknologi merupakan tuntutan praktis yang harus dikuasai oleh seorang wirausaha. Ketiga faktor tersebut merupakan faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap pengelolaan operasional organisasi sehari-hari.
  3. Semakin meningkat kebutuhan masyarakat merupakan peluang pasar. Keadaan masyarakat yang heterogen, kebutuhan manusia yang berbeda-beda, dan adanya perbedaan kemampuan serta sumber-sumber ekonomi yang dimiliki oleh suatu masyarakat merupakan faktor-faktor yang menciptakan peluang bisnis.
  4. Kemampuan seorang wirausaha dalam memasarkan produk akan tercermin dari langkah-langkah pemasaran yang ditempuhnya. Agar seorang wirausaha berhasil dalam memasarkan produknya, terdapat tiga langkah yang harus ditempuh, yaitu mengidentifikasi dan mengevaluasi kesempatan, menganalisis segmen pasar dan menentukan target market, serta merencanakan strategi bauran pemasaran untuk target market-nya. Menggunakan sumber daya luar dan kemitraan merupakan cara yang baik untuk membantu seorang wirausaha dalam mengembangkan kemampuan usahanya, mencari informasi dari berbagai sumber, serta mencari solusi dari masalah usaha yang dihadapi.
  5. Menggunakan sumber daya luar dan kemitraan merupakan cara yang baik untuk membantu seorang wirausaha dalam mengembangkan kemampuan usahanya mencari informasi dari berbagai sumber, serta mencari solusi dari masalah usaha yang dihadapi.

Daftar Pustaka

  • Alma, Buchari (1992). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung: Alfabeta.
  • ______. (1999). Kewirausahaan. Panduan Perkuliahan. Bandung: Alfabeta.
  • Daft, Richard L. (1998). Organization Theory Design. 6th Ed. Cincinnati: South Western College Publishing.
  • Darojat, Ojat. (1999). Individual Differences That Make Individual Unique. Essay. Bendigo: Latrobe University.
  • Deny, Richard. (1994) Sukses Memotivasi Jurus Sukses Meningkatkan Prestasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Drucker, Peter P. (1985). Innovation and Entrepreneurship Practice and Principles. New York: Harper & Row Publishers.
  • Harefa, Andreas. (2000). Berwirausaha dari Nol: 10 Kiat Sukses dengan Modal Seadanya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Kartajaya, Hermawan, dkk. (1996). 36 Kasus Pemasaran Asli Indonesia: Bermain dengan Persepsi. Jakarta: Elex Media Komputindo.
  • Kuratko, Donald F. dan Hodgetts, Richard M. (1989). Entrepreneurship 4 Contemporary Approach. Chicago: The Dryden Press.
  • Mason, Joseph G. (1985) How to Develop Ideas. Nation Business. The U.S. Chamber of Commerce.
  • Meredith, Geoffrey G. et.al. (1996) Kewirausahaan Teori dan Praktik. Seri Manajemen No. 17. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
  • Hisrich, Robert D. dan Peters. Michael P. (1998). Entrepreneurship. 4th Ed. Boston: Irwin McGraw-Hill.
  • Pusat Latihan Koperasi dan Pengusaha Kecil. (1995). Kewirausahaan Indonesia dengan Semangat 17 – 8 – 1945. Jakarta: Kloang Klede Jaya
  • Raudsepp, Fugene. (1970). How Creative Are You? Personnel Journal.
  • Siddigi, M. Nejatullah. (1496). Partnership and Profit Sharing in Islamic Law (Kemitraan Usaha dan Bagi Hasil dalam Hukum Islam) Diterjemahkan oleh Fakriayah Mumtihani. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.
  • Sinetar, Marsha. (1985). “Entrepreneurs, Chaos, and Creativity, Can Creative People Really Survive Large Company Structure”. Sloan Management Review.
  • Supriadi, Dedi. (1994). Kreativitas dan Kebudayaan IPTEK. Bandung: Alfabeta.
  • Timpe, A. Dale. (1992). Creativity. New York: Kend Publishing.
  • Vicere, Albert A. (1985). “Managing Internal Entrepreneur”. Management Review.
  • Wanna, John et al. (1996). Entrepreneurial, Management in The Public Sector. Brisbane: Center for Australian Public Sector Management.
  • Widjava. A.W. (1986). Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan. Jakarta: Akademika Presindo
  • Zikmund, William dan D. Amico Michael. (1989). Marketing. 3rd Ed. Brisbane: John Wiley & Sons Inc.

MODUL 3: Identifikasi Peluang Bisnis dalam Kewirausahaan Kegiatan Belajar 1: Identifikasi Peluang dalam Kewirausahaan
Rangkuman

Ide-ide dari wirausahawan menciptakan nilai-nilai potensial sekaligus peluang. Dalam mengevaluasi ide untuk menciptakan nilai-nilai potensial (peluang usaha), wirausahawan perlu mengidentifikasi dan mengevaluasi semua risiko yang mungkin terjadi. Keberhasilan, wirausahawan bukan semata-mata karena atas ide sendiri, tetapi dapat juga berasal dari pengamatan dan penerapan ide-ide orang lain.Proses penjaringan agar ide potensial menjadi produk dan jasa real melalui langkah-langkah sebagai berikut, yaitu menciptakan produk baru dan berbeda, mengamati pintu peluang, analisis produk dan proses produksi secara mendalam, menaksir biaya awal, dan memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi.

Kegiatan mengidentifikasi pesaing merupakan upaya awal dari wirausahawan untuk dapat masuk ke pasar. Mengenal pesaing adalah hal yang sangat penting bagi wirausahawan. Wirausahawan harus membandingkan secara cermat tentang produk, harga, saluran, dan promosi yang dimiliki pesaing.

Tingkat persaingan berdasarkan tingkat substitusi produk terdiri atas persaingan merek, persaingan industri, persaingan bentuk dan persaingan generik.

Strategi Industri adalah strategi yang dilakukan oleh perusahaan pada pasar bersaing sempurna yang terdiri atas pintu masuk dan penghalang mobilitas, pintu ke luar dan penghalang penciutan, struktur biaya, tingkat integrasi vertikal, dan tingkat globalisasi.

Wirausahawan harus dapat menilai kekuatan dan kelemahan pesaing dan mengestimasi pola persaingan.

Beberapa alat analisis yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi peluang usaha adalah analisis SWOT, Matriks Profil Kompetitif, dan Matriks BCG.

Kegiatan Belajar 2: Merintis Usaha Baru dan Model Pengembangannya
Rangkuman

Ada 3 cara yang dapat dilakukan oleh wirausahawan untuk memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha, yaitu merintis usaha baru (starting), membeli perusahaan orang lain (buying), dan kerja sama manajemen (franchising).

Dalam merintis usaha baru, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti (1) bidang dan jenis usaha yang dimasuki, (2) penentuan bentuk kepemilikan usaha, seperti perusahaan perorangan, Firma, Persekutuan, dan Perseroan, (3) tempat usaha yang akan dipilih, (4) organisasi usaha yang akan digunakan, seperti struktur organisasi usaha sederhana, struktur organisasi pertumbuhan usaha terbatas, struktur organisasi usaha sistem Departemen, dan struktur organisasi garis pada perusahaan besar.

Ada empat hal penting untuk menganalisis perusahaan yang akan dibeli, yaitu alasan pemilik menjual perusahaan, potensi produk dan jasa yang dihasilkan, aspek legal yang dimiliki perusahaan, dan kondisi keuangan perusahaan yang akan dijual.

Franchise adalah suatu persetujuan lisensi menurut hukum antara suatu perusahaan (pabrik) penyelenggara dengan penyalur atau perusahaan lain untuk melaksanakan usaha. Perusahaan yang diberi lisensi disebut franchisor dan penyalur disebut franchisee. Dalam franchising, perusahaan yang diberi hak monopoli menyelenggarakan perusahaan seolah-olah merupakan bagian dari perusahaan pemberi lisensi yang dilengkapi dengan nama produk, merek dagang, dan prosedur penyelenggaraannya secara standar.

Kegiatan pengembangan kewirausahaan pada modul ini difokuskan pada usaha kecil, hal ini dikarenakan kegiatan usaha kecil baik di Indonesia maupun di dunia cukup besar pengaruhnya terhadap perkembangan ekonomi. Usaha kecil relatif lebih efisien dibandingkan dengan usaha besar, seperti pada kasus krisis moneter sekitar tahun 1998. Menurut Undang-undang No. 9/1995 pasal 5 menyatakan bahwa usaha kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp200.000.000,00 atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp1.000.000.000,00.

Usaha kecil adalah usaha yang menyerap 5 – 19 orang yang terdiri dari pekerja kasar yang dibayar, pekerja pemilik, dan pekerja keluarga.

Berdasarkan pengelompokan industri, terdiri atas industri kecil menyerap tenaga kerja 10 – 49 orang, industri sedang 50 – 99 orang, dan industri besar 100 orang lebih.

Daftar Pustaka

  • Kotler, Philip. (1997). Manajemen Pemasaran (Marketing Management 9e). Jakarta: Prenhallindo.
  • Longenecker, J. G., at al. (2001). Kewirausahaan (Manajemen Usaha Kecil). Jakarta: Salemba Empat.
  • Meredith, Geoffrey G. 1996. Kewirausahaan (Teori dan Praktik) Seri Manajemen No. 97. Jakarta: Pustaka Binaman Presindo.
  • Rangkuti, Freddy. (1998). Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Suryana. (2001). Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.

MODUL 4: Manajemen Bisnis dalam Kewirausahaan Kegiatan Belajar 1: Manajemen Produksi dan Keuangan
Rangkuman

Dalam manajemen produksi terdapat perencanaan yang terdiri atas penempatan produk dan skala produksi, pemilihan proses produksi, serta penentuan lokasi. Pengorganisasian produksi, dan pengendalian produksi yang terdiri atas pengendalian bahan baku, tenaga kerja, persediaan produk, dan mutu produk, serta pengendalian proses produksi, sedangkan dalam manajemen keuangan terdiri atas perencanaan keuangan, analisis yang terdiri atas analisis rasio, analisis persentase per komponen, dan analisis perbandingan. Pengendalian keuangan terdiri atas pengendalian arus kas, sumber dan penggunaan dana, kas, piutang, serta persediaan.Kegiatan Belajar 2: Manajemen Pemasaran dan Sumber Daya Manusia
Rangkuman

Manajemen pemasaran terdiri atas perencanaan yang terdiri atas penentuan visi dan misi perusahaan, penentuan strategi dan taktik pemasaran. Pemasaran strategis terdiri atas segmentasi pasar, penetapan pasar sasaran, dan penempatan produk sedangkan untuk taktik pemasaran terdiri atas taktik produk, taktik harga, taktik tempat dan distribusi, serta taktik promosi.

Dalam manajemen sumber daya manusia yang perlu diperhatikan adalah perencanaan, penempatan/staffing, pengembangan dan pemeliharaan sumber daya manusia.

Daftar Pustaka

  • Downey, W. David dan Erickson, Steven P. (1992). Manajemen Agribisnis. Jakarta: Erlangga.
  • Handoko, T. Hani. (1995). Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta: BPFE.
  • Husnan, Suad dan Pudjiastuti, Enny. (1998). Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP AM YKPN.
  • Kotler, Philip. (1997). Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prenhallindo.
  • Nuraeni, Ida dkk. (2002). Manajemen Agribisnis. Bogor: STPP.
  • Munawir, S. (1981). Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.
  • Musyadar, Achmad. (2002). Dasar-dasar Akuntansi. Bogor: STPP.
  • Sunyoto, Agus. (1995). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: STIE IPWI.
  • Tjiptono, Fandi dan Diana, Anastasia. (1996). Total Quality Management. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
  • _________ . Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.

MODUL 5: Kebersamaan dan Etika Bisnis Kegiatan Belajar 1: Komunikasi Bisnis dan Negosiasi
Rangkuman

Setiap orang pasti mempunyai kebutuhan yang ingin dipenuhi. Akan tetapi, alat-alat pemenuhan kebutuhan tidak selamanya ada pada diri seseorang yang mempunyai kebutuhan tersebut. Untuk itu, perlu dicarikan jalan bagaimana seseorang dapat memperoleh alat-alat pemuas kebutuhan tersebut yang dikuasai oleh pihak lain. Salah satu cara adalah dengan jalan melakukan perundingan untuk dapat memperoleh alat-alat pemuas kebutuhan. Mengingat jenis kebutuhan seseorang dapat beraneka ragam maka segala sesuatu yang merupakan kebutuhan dapat menjadi objek perundingan atau negosiasi.Perundingan merupakan suatu kegiatan yang memanfaatkan informasi dan kekuatan yang dimiliki guna mempengaruhi sikap dan perilaku pihak (orang) lain, dalam suatu situasi tertentu. Perundingan merupakan satu cara yang terbaik untuk memperoleh alat-alat pemuas kebutuhan yang dikuasai oleh pihak lain. Perundingan harus komunikatif, kreatif, inovatif bahkan harus waspada dan aktif guna menembus berbagai kesulitan dan hambatan dalam perundingan agar tujuan dapat tercapai. Secara praktis perundangan dua pihak itu adalah untuk mencapai sasaran berupa tercapainya persetujuan tertentu.

Setiap perundingan memerlukan persiapan yang matang dari setiap perundingan. Persiapan meliputi pengenalan akan permasalahan, asumsi-asumsi, strategi dalam perundingan, pengenalan dan penguasaan akan informasi, pengenalan akan kekuatan dan kelemahan diri sendiri, serta perhitungan faktor waktu sehingga dengan tepat dapat menerapkan strategi perundingan guna mencapai tujuan.

Garis besar proses perundingan meliputi (1) persiapan sebelum maju ke meja perundingan, (2) bersoal-jawab sebagai awal dalam perundingan yang lebih merupakan penjajagan, (3) memajukan usulan, dan (4) tawar-menawar tanpa melupakan sasaran dan persyaratan/prasyarat. Setiap permasalahan yang dirundingkan hendaknya dikaitkan satu dengan lain agar sasaran dalam perundingan dapat dicapai.

Kegiatan Belajar 2: Kewirausahaan yang Berasaskan Kebersamaan dan Etika Bisnis yang Sehat
Rangkuman

Seorang wirausaha akan dapat bertahan dan dapat mengembangkan kegiatan usahanya harus dapat mengikuti perkembangan lingkungan, selera para langganan atau konsumen terhadap hasil produksinya. Suatu usaha yang berkembang dapat dilihat dari adanya peningkatan omset penjualan, yang berarti peningkatan volume usaha, pertambahan karyawan, peningkatan laba usaha dan makin meningkatnya kekayaan perusahaan. Untuk meningkatkan operasional perusahaan, diperlukan. Pertama adalah kebersamaan intern perusahaan, untuk mewujudkan komitmen tersebut mutlak diperlukan kebersamaan antara sesama karyawan atau antara pimpinan dengan karyawan sehingga kontribusi tenaga para pegawai dapat maksimal. Kedua adalah kebersamaan perusahaan dengan pihak luar juga harus diperhatikan, yaitu hubungan dengan pasar dalam hal ini konsumen, tetapi tidak kalah pentingnya dengan pihak-pihak yang mendukung operasional perusahaan seperti lembaga keuangan, supplier, dan pemerintah.

Suatu wirausaha akan dikatakan berhasil apabila berkelanjutan perusahaan dalam berusaha, dapat menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan karyawan, meningkatkan kualitas hidup konsumennya serta dapat memperbaiki kualitas lingkungan dari lokasi usahanya

Seorang wirausaha harus memiliki kemampuan mengembangkan usaha melalui kiat-kiat dalam mengidentifikasikan peluang, mampu mengorganisasikan dan menggerakkan berbagai sumber daya dalam memanfaatkan peluang yang ada serta mendayagunakan potensi sumber daya manusia yang ada. Kemauan yang kuat untuk berkarya dengan semangat mandiri tercermin pada kemampuan dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat

Seorang wirausaha harus berani mengambil risiko atas keputusan yang telah ditetapkan, dapat memprediksi keberhasilan usaha dan dapat menekan risiko sekecil mungkin. Selalu kreatif dalam menemukan target-target baru, tekun dalam berusaha tidak mudah menyerah, teliti dalam bertindak, artinya tidak gegabah dalam bersikap serta selalu berpikir produktif untuk selalu menghasilkan yang bermanfaat bagi perusahaannya maupun bagi masyarakat.

Seorang wirausaha harus mampu menjalankan etika bisnis yang sehat dengan cara; selalu menjaga produk dan jasa pada pelanggan, bersikap kebersamaan dengan lingkungan, menjalankan norma bisnis sesuai dengan kebiasaan usaha yang berlaku, serta dalam persaingan menghindar dari cara-cara yang tidak sehat.

Daftar Pustaka

  • N.G. Butelin. (1950). Entrepreneurial Biography; A. Symposium. Explorations in Entrepreneurial History, 1 May 1950, 223-236.
  • B.F Hoselita. (1952). Entrepreneurship and Economic Growth. American Journal of Economics and Sociology, 12 October 1952, 97-110.
  • F. Harbison. (August 1956). Entrepreneurial Organization as A Factors in Economic Development. Quality Journal of Economic, 70.
  • Huisrich, Robert D. (1986). Entrepreneurship and Entrepreneurship Methods for Creating New Companies That Have an Impact on Economic Renaissance of an Area. In Entrepreneurship, Entrepreneurship an Venture Capital. Ed. Robert D. Huisrich. Leington: Mass-Lexington Books.
  • Buchori Alma. (1999). Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta.
  • Salim Siagian. (1995). Pengembangan Kewirausahaan di kalangan Pengusaha Kecil dan Koperasi di Indonesia. Bahan pelengkap rapat koordinasi “Program Pemasyarakatan dan Pembudayaan Kewirausahaan”. Dilaksanakan di Pusat Latihan Koperasi dan Pengusaha Kecil 3 April 1995.

MODUL 6: Pengembangan Kewirausahaan Kegiatan Belajar 1: Pengembangan Kewirausahaan di Kalangan Pengusaha Kecil dan Koperasi di Indonesia
Rangkuman

Wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat kewirausahaan, keberanian mengambil risiko, keutamaan, kreativitas, dan keteladanan dalam menangani usaha atau perusahaan dengan berpijak pada kemauan dan kemampuan sendiri. Pengertian kewirausahaan identik dengan entrepreneurship karena dalam entrepreneurship mencakup terutama sikap (1) pengambilan inisiatif atau prakarsa, (2) pengorganisasian atau upaya menggerakkan mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya atau keadaan menjadi lebih baik, (3) keberanian menerima risiko. Para ekonom mengartikan entrepreneurship sebagai seseorang yang mampu mengombinasikan dengan tepat berbagai sumber daya untuk menghasilkan nilai yang lebih besar dibanding sebelumnya dan sekaligus membawa perubahan, inovatif, dan cara-cara baru. Sedangkan menurut para psikolog entrepreneurship adalah orang yang mempunyai daya dorong tertentu yang diperlukan untuk memperoleh sesuatu untuk bereksperimen, melakukan sesuatu atau malahan untuk menghindari sesuatu. Bagi seorang pengusaha biasa entrepreneur dianggap sebagai ancaman dan oleh para pemilik modal entrepreneurship adalah sangat didambakan karena kemampuannya untuk menghasilkan kekayaan bagi dirinya dan bagi orang lain.Perkoperasian di Indonesia pengembangannya diselenggarakan melalui peningkatan kemampuan organisasi, manajemen kewirausahaan dan permodalan dengan didukung oleh peningkatan jiwa dan semangat berkoperasi. Di sini kewirausahaan memegang peranan dalam pengembangan perkoperasian karena jiwa wiraswasta yang dimiliki oleh para pengurus, anggota dan para kader koperasi akan menjadikan koperasi berkembang dan maju. Jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda, koperasi, dan golongan ekonomi lemah perlu terus dipupuk dan dikembangkan melalui peningkatan kemampuan berproduksi, berusaha dan bekerja sama serta kemampuan menciptakan daya saing dalam pemasaran hasil produksinya. Pengembangan ekonomi rakyat diutamakan pada pengembangan kewiraswastaan, penyediaan sarana dan prasarana, fasilitas pendidikan dan pelatihan, bimbingan dan penyuluhan, serta bantuan permodalan

Semangat kewirausahaan perlu dimasyarakatkan dan dibudayakan oleh para pemimpin pada umumnya dan pengusaha pada khususnya, dengan cara menumbuhkan:

  1. kemauan yang kuat untuk berkarya terutama dalam bidang ekonomi dan semangat mandiri;
  2. mampu membuat keputusan yang tepat dan berani mengambil risiko;
  3. tekun, teliti dan produktif;
  4. berkarya dengan semangat kebersamaan dan etika bisnis yang sehat.

Kegiatan Belajar 2: Strategi Mengembangkan Kewirausahaan
Rangkuman

Kewirausahaan adalah kesatuan terpadu dari semangat nilai-nilai dan prinsip serta sikap, kiat, seni, dan tindakan nyata yang sangat perlu, tepat, dan unggul dalam menangani dan mengembangkan kegiatan usaha. Batasan kewirausahaan melekat pada orang-orang secara pribadi, tetapi sebagian melekat pada kelembagaan. Dengan demikian, pengembangan kewirausahaan tidak hanya menyangkut pribadi perseorangan, tetapi memerlukan wadah, yaitu perusahaan yang ditangani atau dikembangkan.

Beberapa prinsip umum dalam penumbuhan, pengembangan, dan penyebarluasan kewirausahaan, yaitu semangat, sikap, perilaku dan kinerja seseorang atau kelompok orang. Kemauan dan kemampuan kewirausahaan yang dipengaruhi oleh faktor keturunan atau bakat, upaya penumbuhan, dan pengembangan. Setiap daerah selalu muncul orang-orang yang mempunyai bakat wirausaha dengan tingkatan yang berbeda-beda. Pada intinya semangat sikap dan perilaku kewirausahaan tidak semua orang dapat memiliki, tetapi dengan bekerja keras mau mengambil contoh orang lain tentunya jiwa kewirausahaan berangsur-angsur akan tumbuh dan berkembang

Pengembangan kewirausahaan secara tradisional banyak kita jumpai pada masyarakat Minang, warga keturunan, dan pola magang yang dilakukan oleh pedagang keliling dan banyak usaha lazim yang dilakukan secara turun-temurun di mana usaha bisa menjadi besar karena terdapatnya jiwa kewirausahaan dari si pemiliknya

Untuk pembinaan usaha kecil agar dapat menjadi besar perlu ada seleksi, kemudian diberikan pelatihan yang intensif dalam jangka panjang selanjutnya mereka diberikan kesempatan magang dalam bidang tertentu agar menjadi ahli pada bidangnya selanjutnya dapat memulai usahanya dengan mandiri.

Strategi pengembangan kewirausahaan pada dasarnya berpijak pada keyakinan bahwa kinerja seseorang atau kelompok orang merupakan hasil akhir dari 3 unsur yang selalu berintegrasi, yaitu kemauan, kemampuan, dan kesempatan.

Pendidikan kewirausahaan sangat perlu dan diajarkan sejak usia dini sehingga kurikulum pendidikan di SD, SLTP, dan SMU materi kewirausahaan harus dimasukkan sebagai pokok bahasan sehingga jiwa kewirausahaan akan dimiliki seluruh anggota masyarakat.

Daftar Pustaka

  • B.F Hoselita. (12 Oktober 1952). Entrepreneurship and Economic Growth. American Journal of Economics and Sociology. p. 97-110
  • F. Harbison. (August 1956). Entrepreneurial Organization as A Factors in Economic Development. Quality Journal of Economic p. 70.
  • Huisrich, Robert D. (1986). Entrepreneurship and Intrapreneurship Methods for Creating New Companies That have an Impact on Economic Renaissance of an Area ” in “Entrepreneurship, Intrapreneurship an Venture Capital. Ed. Robert D. Huisrich. Leington: Mass-Lexington Books.
  • N.G. Butelin. (1 May 1950). Entrepreneurial Biography, A Symposium. Explorations in Entrepreneurial History. p. 223-236.
  • Salim Siagian. (3 April 1995). Pengembangan Kewirausahaan di Kalangan Pengusaha Kecil dan Koperasi di Indonesia. Bahan Pelengkap Rapat Koordinasi “Program Pemasyarakatan dan Pembudayaan Kewirausahaan”. Dilaksanakan di Pusat Latihan Koperasi dan Pengusaha Kecil.
  • S. Hardjoseputro. (1987). Berjaya karena Wiraswasta. Jakarta: Galaxy Puspa Mega.

sumber: pustaka

Posted in Manajemen | Dengan kaitkata: , , | 2 Comments »

Pengertian Neoliberalisme

Posted by Pratama Rus Ramdhani pada Oktober 25, 2010

Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberaal mengacu pada filosofi ekonomi-politik akhir-abad keduapuluhan, sebenarnya merupakan redefinisi dan kelanjutan dari liberalisme klasik yang dipengaruhi oleh teori perekonomian neoklasik yang mengurangi atau menolak penghambatan oleh pemerintah dalam ekonomi domestik karena akan mengarah pada penciptaan Distorsi dan High Cost Economy yang kemudian akan berujung pada tindakan koruptif. Paham ini memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas  merobohkan hambatan untuk perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan keuntungan dari meningkatkan standar hidup masyarakat atau rakyat sebuah negara dan modernisasi melalui peningkatan efisiensi perdagangan dan mengalirnya investasi.

Sekilas tentang pandangan kaum libertarian

Dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme erat kaitannya dengan pembukaan pasar luar negeri melalui cara-cara politis, menggunakan tekanan ekonomi, diplomasi, dan/atau intervensi militer. Pembukaan pasar merujuk pada perdagangan bebas.

Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politik multilateral, melalui berbagai kartel pengelolaan perdagangan seperti WTO dan Bank Dunia. Ini mengakibatkan berkurangnya wewenang pemerintahan sampai titik minimum. Neoliberalisme melalui ekonomi pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah (seperti paham Keynesianisme), dan melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan hak-hak buruh seperti upah minimum, dan hak-hak daya tawar kolektif lainnya.

Neoliberalisme bertolakbelakang dengan sosialisme, proteksionisme, dan environmentalisme. Secara domestik, ini tidak langsung berlawanan secara prinsip dengan poteksionisme, tetapi kadang-kadang menggunakan ini sebagai alat tawar untuk membujuk negara lain untuk membuka pasarnya. Neoliberalisme sering menjadi rintangan bagi perdagangan adil dan gerakan lainnya yang mendukung hak-hak buruh dan keadilan sosial yang seharusnya menjadi prioritas terbesar dalam hubungan internasional dan ekonomi.
Bagi kaum liberal, pada awalnya kapitalisme dianggap menyimbolkan kemajuan pesat eksistensi masyarakat berdasarkan seluruh capaian yg telah berhasil diraih. Bagi mereka, masyarakat pra-kapitalis adalah masyarakat feodal yang penduduknya ditindas.

Bagi John Locke, filsuf abad 18, kaum liberal ini adalah orang-orang yg memiliki hak untuk ‘hidup, merdeka, dan sejahtera’. Orang-rang yang bebas bekerja, bebas mengambil kesempatan apapun, bebas mengambil keuntungan apapun, termasuk dalam kebebasan untuk ‘hancur’, bebas hidup tanpa tempat tinggal, bebas hidup tanpa pekerjaan.

Kapitalisme membanggakan kebebasan seperti ini sebagai hakikat dari penciptaannya. dan dalam perjalanannya, kapitalisme selalu menyesuaikan dan menjaga kebebasan tersebut. Misalnya masalah upah pekerja, menurut konsepsi kapitalis, semua keputusan pemerintah atau tuntutan publik adalah tidak relevan.

Kemudian paham yang terbentuk bagi kaum liberal adalah kebebasan, berarti: ada sejumlah orang yang akan menang dan sejumlah orang yg akan kalah. Kemenangan dan kekalahan ini terjadi karena persaingan. Apakah anda bernilai bagi orang lain, ataukah orang lain akan dengan senang hati memberi sesuatu kepada anda. Sehingga kebebasan akan diartikan sebagai memiliki hak-hak dan mampu menggunakan hak-hak tsb dengan memperkecil turut campur nya aturan pihak lain. “kita berhak menjalankan kehidupan sendiri”

Saat ini, ekonom seperti Friedrich von Hayek dan Milton Friedman kembali mengulangi argumentasi klasik Adam Smith dan JS Milton, menyatakan bahwa: masyarakat pasar kapitalis adalah masyarakat yg bebas dan masyarakat yang produktif. Kapitalisme bekerja menghasilkan kedinamisan, kesempatan, dan kompetisi. Kepentingan dan keuntungan pribadi adalah motor yang mendorong masyarakat bergerak dinamis.

Kekalahan liberalisme

Sejak masa kehancuran Wall Street (dikenal dengan masa Depresi Hebat atau Great Depression) hingga awal 1970-an, wacana negeri industri maju masih ‘dikuasai’ wacana politik sosial demokrat dengan argumen kesejahteraan.

Kaum elit politik dan pengusaha memegang teguh pemahaman bahwa salah satu bagian penting dari tugas pemerintah adalah menjamin kesejahteraan warga negara dari bayi sampai meninggal dunia. Rakyat berhak mendapat tempat tinggal layak, mendapatkan pendidikan, mendapatkan pengobatan, dan berhak mendapatkan fasilitas-fasilitas sosial lainnya.

Dalam sebuah konferensi moneter dan keuangan internasional yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Bretton Woods pada 1944, setelah Perang Dunia II. Konferensi yang dikenal sebagai konferensi Bretton Woods ini bertujuan mencari solusi untuk mencegah terulangnya depresi ekonomi di masa sesudah perang. Negara-negara anggota PBB lebih condong pada konsep negara kesejahteraan sebagaimana digagas oleh John Maynard Keynes. Dalam konsep negara kesejahteraan, peranan negara dalam bidang ekonomi tidak dibatasi hanya sebagai pembuat peraturan, tetapi diperluas sehingga meliputi pula kewenangan untuk melakukan intervensi fiskal, khususnya untuk menggerakkan sektor riil dan menciptakan lapangan kerja.

Pada kondisi dan suasana seperti ini, tulisan Hayek pada tahun 1944, The Road Of Serdom, yg menolak pasal-pasal tentang kesejahteraan dinilai janggal. Tulisan Hayek ini menghubungkan antara pasal-pasal kesejahteraan dan kekalahan liberal, kekalahan kebebasan individualisme.

Kebangkitan Neoliberalisme

Perubahan kemudian terjadi seiring krisis minyak dunia tahun 1973, akibat reaksi terhadap dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dalam perang Yom Kippur, dimana mayoritas negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah melakukan embargo terhadap AS dan sekutu-sekutunya, serta melipatgandakan harga minyak dunia, yang kemudian membuat para elit politik di negara-negara sekutu Amerika Serikat berselisih paham sehubungan dengan angka pertumbuhan ekonomi, beban bisnis, dan beban biaya-biaya sosial demokrat (biaya-biaya fasilitas negara untuk rakyatnya). Pada situasi inilah ide-ide libertarian sebagai wacana dominan, tidak hanya di tingkat nasional dalam negeri tapi juga di tingkat global di IMF dan World Bank.

Pada 1975, di Amerika Serikat, Robert Nozick mengeluarkan tulisan berjudul “Anarchy, State, and Utopia“, yang dengan cerdas menyatakan kembali posisi kaum ultra minimalis, ultra libertarian sebagai retorika dari lembaga pengkajian universitas, yang kemudian disebut dengan istilah “Reaganomics”.

Di Inggris, Keith Joseph menjadi arsitek “Thatcherisme”. Reaganomics atau Reaganisme menyebarkan retorika kebebasan yang dikaitkan dengan pemikiran Locke, sedangkan Thatcherisme mengaitkan dengan pemikiran liberal klasik Mill dan Smith. Walaupun sedikit berbeda, tetapi kesimpulan akhirnya sama: Intervensi negara harus berkurang dan semakin banyak berkurang sehingga individu akan lebih bebas berusaha. Pemahaman inilah yang akhirnya disebut sebagai “Neoliberalisme“.

Paham ekonomi neoliberal ini yang kemudian dikembangkan oleh teori gagasan ekonomi neoliberal yang telah disempurnakan oleh Mazhab Chicago yang dipelopori oleh Milton Friedman.

Neoliberalisme

Neoliberalisme bertujuan mengembalikan kepercayaan pada kekuasaan pasar, dengan pembenaran mengacu pada kebebasan.

Seperti pada contoh kasus upah pekerja, dalam pemahaman neoliberalisme pemerintah tidak berhak ikut campur dalam penentuan gaji pekerja atau dalam masalah-masalah tenaga kerja sepenuhnya ini urusan antara si pengusaha pemilik modal dan si pekerja. Pendorong utama kembalinya kekuatan kekuasaan pasar adalah privatisasi aktivitas-aktivitas ekonomi, terlebih pada usaha-usaha industri yang dimiliki-dikelola pemerintah.

Tapi privatisasi ini tidak terjadi pada negara-negara kapitalis besar, justru terjadi pada negara-negara Amerika Selatan dan negara-negara miskin berkembang lainnya. Privatisasi ini telah mengalahkan proses panjang nasionalisasi yang menjadi kunci negara berbasis kesejahteraan. Nasionalisasi yang menghambat aktivitas pengusaha harus dihapuskan.

Revolusi neoliberalisme ini bermakna bergantinya sebuah manajemen ekonomi yang berbasiskan persediaan menjadi berbasis permintaan. Sehingga menurut kaum Neoliberal, sebuah perekonomian dengan inflasi rendah dan pengangguran tinggi, tetap lebih baik dibanding inflasi tinggi dengan pengangguran rendah. Tugas pemerintah hanya menciptakan lingkungan sehingga modal dapat bergerak bebas dengan baik.

Dalam titik ini pemerintah menjalankan kebijakan-kebijakan memotong pengeluaran, memotong biaya-biaya publik seperti subsidi, sehingga fasilitas-fasilitas untuk kesejahteraan publik harus dikurangi.

Akhirnya logika pasarlah yang berjaya diatas kehidupan publik. Ini menjadi pondasi dasar neoliberalism, menundukan kehidupan publik ke dalam logika pasar. Semua pelayanan publik yang diselenggarakan negara harusnya menggunakan prinsip untung-rugi bagi penyelenggara bisnis publik tersebut, dalam hal ini untung rugi ekonomi bagi pemerintah. Pelayanan publik semata, seperti subsidi dianggap akan menjadi pemborosan dan inefisiensi. Neoliberalisme tidak mengistimewakan kualitas kesejahteraan umum.

Tidak ada wilayah kehidupan yang tidak bisa dijadikan komoditi barang jualan. Semangat neoliberalisme adalah melihat seluruh kehidupan sebagai sumber laba korporasi. Misalnya dengan sektor sumber daya air, program liberalisasi sektor sumber daya air yang implementasinya dikaitkan oleh Bank Dunia dengan skema watsal atau water resources sector adjustment loan. Air dinilai sebagai barang ekonomis yang pengelolaannya pun harus dilakukan sebagaimana layaknya mengelola barang ekonomis. Dimensi sosial dalam sumberdaya public goods direduksi hanya sebatas sebagai komoditas ekonomi semata. Hak penguasaan atau konsesi atas sumber daya air ini dapat dipindah tangankan dari pemilik satu ke pemilik lainnya, dari satu korporasi ke korporasi lainnya, melalui mekanisme transaksi jual beli. Selanjutnya sistem pengaturan beserta hak pengaturan penguasaan sumber air ini lambat laun akan dialihkan ke suatu badan berbentuk korporasi bisnis atau konsursium korporasi bisnis yang dimiliki oleh pemerintah atau perusahaan swasta nasional atau perusahaan swasta atau bahkan perusahaan multinasional dan perusahaan transnasional.

Satu kelebihan neoliberalisme adalah menawarkan pemikiran politik yang sederhana, menawarkan penyederhanaan politik sehingga pada titik tertentu politik tidak lagi mempunyai makna selain apa yang ditentukan oleh pasar dan pengusaha. Dalam pemikiran neoliberalisme, politik adalah keputusan-keputusan yang menawarkan nilai-nilai, sedangkan secara bersamaan neoliberalisme menganggap hanya satu cara rasional untuk mengukur nilai, yaitu pasar. Semua pemikiran diluar rel pasar dianggap salah.

Kapitalisme neoliberal menganggap wilayah politik adalah tempat dimana pasar berkuasa, ditambah dengan konsep globalisasi dengan perdagangan bebas sebagai cara untuk perluasan pasar melalui WTO, akhirnya kerap dianggap sebagai Neoimperialisme.

Penyebaran Neoliberalisme

Penerapan agenda-agenda ekonomi neoliberal secara mencolok dimotori oleh Inggris melalui pelaksanaan privatisasi seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mereka. Penyebarluasan agenda-agenda ekonomi neoliberal ke seluruh penjuru dunia, menemukan momentum setelah dialaminya krisis moneter oleh beberapa Negara Amerika Latin pada penghujung 1980-an. Sebagaimana dikemukakan Stiglitz, dalam rangka menanggulangi krisis moneter yang dialami oleh beberapa negara Amerika Latin, bekerja sama dengan Departemen keuangan AS dan Bank Dunia, IMF sepakat meluncurkan sebuah paket kebijakan ekonomi yang dikenal sebagai paket kebijakan Konsensus Washington.

Agenda pokok paket kebijakan Konsensus Washington yang menjadi menu dasar program penyesuaian struktural IMF tersebut dalam garis besarnya meliputi : (1) pelaksanan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi negara dalam berbagai bentuknya, (2) pelaksanaan liberalisasi sektor keuangan, (3) pelaksanaan liberalisasi sektor perdagangan, dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN.

di Indonesia

Di Indonesia, walaupun sebenarnya pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal telah dimulai sejak pertengahan 1980-an, antara lain melalui paket kebijakan deregulasi dan debirokratisasi, pelaksanaannya secara massif menemukan momentumnya setelah Indonesia dilanda krisis moneter pada pertengahan 1997.

Menyusul kemerosotan nilai rupiah, Pemerintah Indonesia kemudian secara resmi mengundang IMF untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Sebagai syarat untuk mencairkan dana talangan yang disediakan IMF, pemerintah Indonesia wajib melaksanakan paket kebijakan Konsensus Washington melalui penanda-tanganan Letter Of Intent (LOI), yang salah satu butir kesepakatannya adalah penghapusan subsidi untuk bahan bakar minyak, yang sekaligus memberi peluang masuknya perusahaan multinasional seperti Shell. Begitu juga dengan kebijakan privatisasi beberapa BUMN, diantaranya Indosat, Telkom, BNI, PT. Tambang Timah dan Aneka Tambang.

di Amerika Serikat

Dalam penggunaan di Amerika Serikat, istilah neoliberalisme dihubungkan dengan dukungan untuk perdagangan bebas dan welfare reform, tapi tidak dengan tentangan terhadap Keynesianism atau environmentalism. Dalam konteks AS, misalnya, ekonom Brad DeLong adalah seorang neoliberal, walaupun ia mendukung Keynesi, income redistribution, dan pengritik pemerintahan George W. Bush. Dalam penggunaan AS, neoliberalisme (“liberalisme baru”) biasanya dihubungkan dengan the Third Way, atau sosial-demokrasi di bawah gerakan New Public Management. Pendukung versi AS menganggap bahwa posisi mereka adalah pragmatis, berfokus pada apa yang dapat berhasil dan melebihi debat antara kiri dan kanan, walaupun liberalisme baru mirip dengan kebijakan ekonomi center-of-left (seperti halnya di Kanada di abad ke-20).

Kedua penggunaan ini dapat menimbulkan kebingungan. Dalam penggunaan internasional, presiden Ronald Reagan dan United States Republican Party dipandang sebagai pendukung neoliberalisme. Tapi Reagan tidak pernah digambarkan demikian dalam diskusi politik di AS, di mana istilah ini biasanya diterapkan pada Democrats seperti Democratic Leadership Council.

Kritik

Kritik terhadap neoliberalisme terutama sekali berkaitan dengan negara-negara berkembang yang aset-asetnya telah dimiliki oleh pihak asing. Negara-negara berkembang yang institusi ekonomi dan politiknya belum terbangun tetapi telah dikuras sebagai akibat tidak terlindungi dari arus deras perdagangan dan modal. Bahkan dalam gerakan neoliberal sendiri terdapat kritik terhadap banyaknya negara maju telah menuntut negara lain untuk meliberalisasi pasar mereka bagi barang-barang hasil industri mereka, sementara mereka sendiri melakukan proteksi terhadap pasar pertanian domestik mereka.

Pendukung antiglobalisasi adalah pihak yang paling lantang menentang neoliberalisme, terutama sekali dalam implementasi “pembebasan arus modal” akan tetapi tidak dalam hal adanya pembebasan arus tenaga kerja. Salah satu pendapat mereka, kebijakan neoliberal hanya mendorong sebuah “perlombaan menuju dasar” dalam arus modal menuju titik terendah untuk standar lingkungan dan buruh.

sumber;wikipediadotcom

Posted in Akuntansi, ilmu Ekonomi, Manajemen | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pengertian Kota Hantu dalam ekonomi

Posted by Pratama Rus Ramdhani pada Oktober 25, 2010

Kota hantu adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kota yang telah ditinggalkan. Kota tersebut biasanya ditinggalkan karena aktivitas ekonomi yang mendukungnya telah gagal, atau karena bencana alam atau yang disebabkan oleh manusia, seperti perang.

Kota hantu sejati adalah kota yang sepenuhnya ditinggalkan, seperti Bodie, California, tetapi turis mungkin akan datang mengunjunginya.

sumber ; wikipediadotcom

Posted in ilmu Ekonomi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Perekonomian Negara Jepang

Posted by Pratama Rus Ramdhani pada Oktober 25, 2010

Ekonomi pasar bebas dan terindustrisasi Jepang merupakan ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina dalam istilah paritas daya beli internasional. Ekonominya sangat efisien dan bersaing dalam area yang berhubungan ke perdagangan internasional, tapi produktivitas lebih rendah di bidang agriklutur, distribusi, dan pelayanan.

Setelah mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia dari 1960-an ke 1980-an, ekonomi Jepang merosot secara drastis pada awal 1990-an, ketika “ekonomi gelembung” jatuh. Persediaan kepemimpinan industri dan teknisi, pekerja yang berpendidikan tinggi dan bekerja keras, tabungan dan invesatasi besar dan promosi intensif pengembangan industri dan perdagangan internasional telah memproduksi ekonomi industri yang matang.

Jepang memiliki sumber daya alam yang rendah, tetapi perdagangan menolongnya mendapatkan sumber daya untuk ekonominya.

Meskipun prospek ekonomi jangka panjang Jepang masih bagus, namun sekarang dia berada dalam resesi terburuknya sejak Perang Dunia II. Harga saham dan properti tetap yang turun, menandai akhir dari “ekonomi busa” 1980-an. GDP nyata di Jepang tumbuh rata-rata sekitar 1% antara 1991-98, dibandingkan dengan 1980-an sekitar 4%. Pertumbuhan di Jepang pada dekade ini lebih rendah dari pertumbuhan negara maju lainnya. Jepang memasuki masa resesi pada awal millenia, dimulai oleh resesi di Amerika Serikat, tetapi sejak 2003 telah mulai tumbuh kembali dengan kuat dan pada 2004 menikmati pertumbuhan tertinggi sejak 1990.

Sektor jasa

Sejumlah tiga perempat dari total penghasilan ekonomi Jepang berasal dari sektor jasa. Industri utama sektor jasa di Jepang berupa bank, asuransi, realestat, bisnis eceran, transportasi, dan telekomunikasi. Mitsubishi UFJ, Mizuho, NTT, TEPCO, Nomura, Mitsubishi Estate, Tokio Marine, Japan Railway, Seven & I, dan Japan Airlines adalah nama-nama perusahaan Jepang yang termasuk perusahaan terbesar dunia. Kebijakan Pemerintah Jepang di masa Perdana Menteri Junichiro Koizumi melakukan swastanisasi Japan Post. Enam keiretsu utama terdiri dari grup Mitsubishi, Sumitomo, Fuyo, Mitsui, Dai-Ichi Kangyo, dan Sanwa. Sejumlah 326 perusahaan Jepang berada dalam daftar Forbes Global 2000 atau 16,3% dari total perusahaan dalam daftar Forbes Global 2000 pada tahun 2006.

Sektor industri

Industri ekspor utama Jepang adalah otomotif, elektronik konsumen (lihat industri elektronik konsumen Jepang), komputer, semikonduktor, besi, dan baja. Industri penting lain dalam ekonomi Jepang adalah petrokimia, farmasi, bioindustri, galangan kapal, dirgantara, tekstil, dan makanan yang diproses. Industri manufaktur Jepang banyak bergantung pada impor bahan mentah dan bahan bakar minyak.

Kawasan industri tersebar di sejumlah prefektur. Di wilayah Kantō, kawasan industri berada di Chiba, Kanagawa, Saitama, dan Tokyo (kawasan industri Keihin). Di wilayah Tōkai, kawasan industri Chukyo-Tokai berada di Aichi, Gifu, Mie, dan Shizuoka. Di wilayah Kansai, kawasan industri Hanshin berada di Osaka, Kyoto, dan Kobe. Kawasan industri Setouchi mencakup barat daya Pulau Honshu dan bagian utara Shikoku sekitar Laut Pedalaman Seto, sementara di Kyushu, kawasan industri berada di bagian utara Kyushu (Kitakyūshū)

Pertanian

Walaupun hanya 12% dari luas daratan di Jepang yang bisa dipergunakan untuk pertanian, namun hasilnya termasuk memuaskan. Besarnya hasil pertanian didukung oleh kesuburan lahan pertanian karena tanah yang mengandung abu vulkanis. Di samping itu, penggarapan lahan pertanian dilakukan secara intensif dengan didukung teknologi maju. Sektor pertanian adalah sektor yang diproteksi pemerintah dan menerima subsidi dalam jumlah besar.

Hasil pertanian Jepang berupa padi, kentang, jagung, gandum, kacang, kedelai, dan teh. Hasil peternakan berupa babi, ayam, telur, sapi dan susu. Sayur-sayuran berupa lobak, kubis, ketimun, tomat, wortel, bayam, dan selada. Sedangkan buah-buahan yang banyak ditanam adalah apel dan jeruk. Apel merupakan produk unggulan Tohoku dan Hokkaido. Buah pir merupakan produk pertanian unggulan Prefektur Tottori. Perkebunan jeruk berada di Shikoku, Shizuoka, dan Kyushu. Tanaman pir dan jeruk dibawa masuk ke Jepang oleh pedagang Belanda di Nagasaki pada akhir abad ke-18.

Padi adalah tanaman pangan yang sangat diproteksi pemerintah Jepang. Beras impor dikenakan bea masuk 490% dan pembatasan kuota sebesar 7,2% dari rata-rata konsumsi beras tahun 1968 hingga 1988. Impor di luar kuota tidak dilarang, namun dikenakan bea masuk \341 per kilogram. Tarif bea masuk beras impor yang sekarang (490%) diperkirakan akan naik menjadi 778% menurut perhitungan baru yang akan diberlakukan sesuai Putaran Doha.[1]

Walaupun Jepang biasanya dapat melakukan swasembada beras (kecuali beras untuk membuat senbei dan makanan olahan), Jepang harus mengimpor 50% dari kebutuhan konsumsi serealia[2] dan bergantung pada impor daging. Jepang mengimpor gandum, sorgum, dan kedelai dalam jumlah besar, terutama dari Amerika Serikat. Jepang merupakan pasar terbesar bagi ekspor pertanian Uni Eropa.

Perikanan

Jepang menempati urutan ke-2 di dunia di belakang Republik Rakyat Cina dalam tonase penangkapan ikan (tahun 1989: 11,9 juta ton), kenaikan tipis dari 11,1 juta ton pada tahun 1980. Setelah terjadi krisis minyak 1973, perikanan laut dalam di Jepang menurun. Pada tahun 1980-an, total tangkapan ikan per tahun rata-rata 2 juta ton. Perikanan lepas pantai mencapai 50 % dari penangkapan ikan total pada akhir 1980-an, meski beberapa kali mengalami kenaikan dan penurunan.

Perikanan pesisir dilakukan dengan perahu kecil, jala, atau teknik penangkaran terhitung sekitar sepertiga produksi total industri perikanan Jepang. Sementara itu, perikanan lepas pantai dengan kapal ukuran menengah terhitung sekitar lebih dari separuh produksi total. Di antara hasil laut yang diambil misalnya: sarden, cakalang, kepiting, udang, salem, cumi-cumi, kerang, tuna, saury, yellowtail, dan makerel.

Jepang termasuk salah satu negara yang memiliki armada perikanan terbesar di dunia. Walaupun demikian, Jepang adalah negara pengimpor hasil laut terbesar di dunia (senilai AS$ 14 milyar)[3] Sejak tahun 1996, Jepang berada di peringkat ke-6 dalam total tangkapan ikan di bawah RRC, Peru, Amerika Serikat, Indonesia, dan Chili.[4][5] Jepang juga menebarkan kontroversi dengan mendukung perburuan ikan paus.[6]

 

sumber;wikipediadotcom

Posted in Makalah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »